Makan Sagu itu Hikmat sekaligus Nikmat

Jika kemarin beta membahas mengenai sopi, maka kali ini beta ingin membahas mengenai sagu. Sagu yang beta maksud adalah jenis sagu lempeng yang adalah makanan pokok beta leluhur. Pada paragraf ke-dua belas tulisan tentang sopi, beta katakan “dan oleh karena nilai yang luhur, maka yang beta leluhur turunkan itu yang beta lakukan.” Perkataan ini terinspirasi dari alinea ke-tiga Pembukaan UUD NRI 1945, “… dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…“ Bagian ini, menginspirasi beta untuk makan sagu, karena didorong oleh keinginan luhur dari yang para leluhur turunkan melalui adat istiadat. 

Menurut KBBI luhur artinya 1.tinggi, mulia. Sementara leluhur artinya 1.nenek moyang (yang diluhurkan/dimuliakan, ditinggikan). Jadi, keinginan luhur adalah keinginan yang mulia, yang diturunkan oleh yang tinggi atau yang mulia. Sehingga, bagi beta makan sagu adalah sesuatu yang tinggi dan mulia. Itu yang pertama.

Kemudian  tentang keutungan atau “keluhuran” jika makan sagu. Selama kurang lebih 6 bulan beta lebih banyak  mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok, beta temukan beberapa keutungan dari makan sagu, yakni; (1) lebih banyak makan sayur dan ikan; (2) minum air putih hangat dan panas lebih banyak; (3) mengurangi penggunaan minyak tanah/gas; (4) menghidup industri rumahan; (5) mengurangi konsumsi beras; dan (6) melestarikan budaya.


Mari kita bedah satu persatu manfaatnya. 


(1) Lebih banyak makan sayur. 

Setiap kali memakan sagu terutama di siang dan malam, beta cendrung menghabiskan lebih banyak sayur dan ikan ketimbang saat beta makan nasi. Saat sagu dikunyah di beta mulut, beta tangan tidak berhenti untuk mengambil lauk pauk. Jika beta pikir kembali, mungkin karena rasa hambarnya sagu yang membuat beta lebih ingin makan sayur dan ikan, sehingga ada campuran rasa yang lainnya dalam beta mulut. Tentu jika beta lebih banyak makan sayur dan ikan maka beta lebih sehat, seperti kata dokter. 


(2) minum air putih hangat dan panas lebih banyak. 

Pada dasarnya sagu adalah makanan yang kering. Saking keringnya tekstur sagu dan bentuknya sangat kasar, sehingga sulit untuk dikonsumi secara langsung, tanpa menggunakan air panas. Dan meminum air panas dan air putih hangat, cendrung lebih sehat ketimbang minum minuman dingin. Entah bagaimana tapi beta yakin mengkonsumsi air hangat juga sangat sehat. Beta sehari bisa mengkonsumsi 650 ml air hangat setiap harinya.


(3) mengurangi penggunaan minyak tanah/gas. 

Untuk mengkonsumsi sagu, hanya diperlukan air panas untuk membuat kopi, teh, atau minuman panas lainnnya sebagai penglembek sagu. Sagu sendiri sudah masak sejak dibeli dan tinggal dimakan, tanpa perlu dimasak lagi. Tentu hal ini pasti mengurangi penggunaan minyak tanah/gas. 


(4) menghidup industri rumahan. 

Sejauh ini, dari informasi yang beta tahu, pengelolaan sagu masih tergolong dalam industry rumahan yang sebagain sistem pengelolaannya  masih menggunakan sistem tradisional. Para pengusaha atau petani sagu pasti akan terancam bilamana konsumsi sagu menurun, oleh karena itu dengan sering mengkonsumsi sagu maka para petani atau pengusaha sagu dapat terus melanjutkan bisnis sagunya.


(5) mengurangi konsumsi beras. 

Setidaknya dengan mengkonsumsi sagu beta sudah menghemat kurang lebih 7.5 kg beras per 30 hari (1 bulan). Karena ini sudah enam bulan jadi beta sudah tidak mengkonsumsi beras kurang lebih ada 45 Kg. tentu pasti ada yang bertanya mengapa mendapatkan angka itu? Sederhananya begini, beta mengkonsumsi beras biasanya sebanyak 1 cupa atau sebanyak 250 gr. Kemudian 250 gr dikalikan dengan 30, maka didapatkan 7500 gr atau 7.5 kg. Kemudian 7.5 kg dikalikan dengan 6 bulan sehingga dapatlah 45 kg. Jika beras sebanyak 45 kg ini bisa diberikan kepada daerah lain yang lebih membutuhkan, maka itu lebih baik. Melalui penghematan beras ini juga beta sudah tidak berkontribusi dalam persoalan impor beras dari Negara lain. 


(6) memahami makna menjadi Maluku.

Untuk yang keenam ini, silahkan teman-teman coba makan sagu sebagai makanan pokok selama seminggu. Lalu sebulan, dan kemudian jadi gaya hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar