Tentang Anak-anak

Tantui. Menjelang sore menanti senja, beta berhenti sejenak mengistirahatkan kaki. Beta duduk di atas talud setinggi kurang lebih lima puluh meter. Sangat menyenangkan berada di situ. Melihat senja yang masih malu untuk muncul dan memandang teluk ambon yang penuh rayuan. Di bawah talud itu, ada beberapa bocah yang sedang bermain dengan begitu menyenangkan. Kehadiran beta membuat mereka sejenak memperhatikan.

“Om, om polisi?” teriak seorang bocah, “Om bukan polisi!”  


Entah mengapa mereka bertanya begitu. Beta rasa kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk tidak melihat orang dari penampilan dan apa yang dipakai.


“Om, om ada belajar?” tanya Si Bocah lagi, setelah buku dan pena beta keluarkan. 


“Tidak, om tidak belajar” spontan beta menjawab.


Spontan beta katakan begitu, karena dalam beta benak, belajar untuk anak-anak hanya tentang pelajaran di sekolah saja. 


“Om, belajar itu di dalam rumah! Bukan di luar!” Mereka tidak mendengar jawaban beta. 


“Belajar itu di mana saja!” beta menjawab dengan spontan. Setelah itu beta terpikir tentang jawaban beta yang tadi, dan menjadi malu, sekaligus disadarkan. Memang kita harus mengajarkan anak-anak kita bahwa belajar itu di mana saja, termasuk dalam tidur.


“Om, om anak sekolah?” tanya Si Bocah lagi. 


“Bukan!”  Jawab beta. 


“Sumpah?!” Balas mereka. 


“Om bukan anak sekolah! Sumpah demi apa?” Si Bocah ngotot. 


“Om, tidak mau sumpah!” Hmm, menurut beta kita harus mengajarkan anak untuk berkata jujur tanpa perlu mengaku dengan paksa, karena kejujuran adalah berkata tanpa dipaksa dan bukan sesuatu yang luar biasa.


Terakhir mereka berkata “om, om paling gagah (tampan)!” 


"Danke!” jawab beta.



Beberapa waktu kemudian beta baru sadar, jarak beta dan mereka sekita empat puluh meter, jadi wajar mereka bilang beta tampan. Karena jarak yang jauh.



Ambon, 27 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar